QURBAN

QURBAN
Untuk jualan Qurban, pihak MZ
Mutiara Emas membuka tempahan jualan seawal 2 bulan sebelum tarikh Qurban
berlangsung.
Para pelanggan dinasihatkan
membuat tempahan awal bagi mengelakkan kehabisan stok dan memudahkan pihak kami
menguruskan stok-stok ternakan yang akan di bawa masuk.
Maksud
Qurban
Menyembelih binatang ternakan
yang terdiri dari unta, lembu, kambing dan kibas yang sampai *umur pada Hari
Raya Qurban (Aidil Adha) 10 Zulhijjah selepas sembahyang sehinggalah gelincir
matahari hari terakhir tasyrik iaitu 13 Zulhijjah dengan tujuan mendekatkan
diri kepada Allah.
* umur binatang yang boleh
diqurbankan
Unta 5 tahun ke atas – 7
bahagian
Lembu/kerbau 2 tahun ke atas
– 7 bahagian
Kambing, 2 tahun ke atas – 1
bahagian
Bebiri, 6 bulan ke atas – 1
bahagian
Ditegah berqurban dengan
binatang yang cacat, berpenyakit, patah anggotanya dan terlalu kurus.
*Nota : Seekor kambing boleh
diniatkan qurban untuk sekeluarga. Sila rujuk video dibawah untuk penjelasan
lanjut oleh Dato’ Ustaz Dr. Abu Anas Madani.
https://www.youtube.com/watch?v=1JMUjiejxUk&feature=youtu.be
Sunat-Sunat
Ketika Menyembelih Binatang Qurban
Membaca Bismillah
Selawat ke atas Nabi
Menghadap Kiblat
Bertakbir
Berdoa supaya diterima ibadah
Qurban.
Nota :- Daging qurban yang di
niat nazar oleh orang yg bernazar, hendaklah disedekahkan semuanya. 1/3
daripada daging qurban sunat boleh dimakan oleh mereka yang berqurban dan
selebihnya disedekahkan kepada fakir miskin, boleh juga disedekahkan kepada
orang kaya mengikut mahzab syafie. Mereka yang melakukan ibadah qurban
disunatkan menyaksikan penyembelihan binatang qurban tersebut seperti mana
sabda Rasullah s.a.w :
“Wahai Fatimah!, berdirilah
di sisi qurbanmu dan saksikanlah, sesungguhnya titisan darahya yang pertama itu
pengampunan bagimu atas dosa-dosa yang telah lalu.” (Riwayat Bazzar dan Ibnu
Hibban)
Menyaksikan sendiri
perlaksanaan qurban tidak termasuk dalam syarat-syarat ibadah qurban.
Imam Khatib didalam kitabnya
Mughni Al-Muhtaj menyatakan, disunatkan bagi mereka yang melaksanakan qurban
untuk menyembelih sendiri binatang qurban tersebut, sekiranya tidak mampu
disunatkan bagi mereka menyaksikan penyembelihan itu.
Hikmah
Qurban
Ada sekian banyak hikmah yang
dapat kita petik dari pelaksanaan ibadah qurban ini. Berikut adalah sebahagian
hikmah-hikmah yang terkandung di dalam ibadah Qurban:
1.
Keikhlasan dan ketulusan
Yang sangat mengagumkan dari
peristiwa sejarah qurban Nabi Ibrahim adalah keikhlasan dan ketulusan dalam
menjalankan perintah Allah tanpa ada rasa berat hati, beban, ataupun ketidak
tulusan dalam menjalankan perintah Allah . Memang Nabi Ibrahim sebagai manusia
tentu akan merasa berat ketika mendapatkan perintah dari Allah untuk
menyembelih anaknya, yaitu nabi Ismail. Tapi kecintaan, keimanan dan ketaatan
Nabi Ibrahim kepada Allah jauh lebih besar daripada kecintaan terhadap anak,
isteri, harta, bahkan dunia dan seisinya, menjadikan perintah yang terasa berat
tersebut terasa ringan, juga disisi lain Nabi Ibrahim pun yakin bahawa Allah
tidak akan mensia-siakan mereka dan Allah akan memberikan yang terbaik untuk
mereka.
2.
Kesabaran
Bila kita renungi, peristiwa
yang terjadi kepada Nabi Ibrahim dengan adanya perintah untuk menyembelih
anaknya merupakan suatu peristiwa luar biasa yang memerlukan tingkat kesabaran
yang luar biasa. Apatah lagi anak yang harus diqurbankan adalah seorang anak
soleh yang telah dinanti-nantikannya selama puluhan tahun, dan ketika apa yang
mereka nanti-nantikan tersebut hadir, lalu ada perintah untuk menyembelihnya,
tentu ini merupakan suatu hal yang sangat berat dilakukan untuk ukuran manusia
biasa.
Yang luar biasa adalah
kesabaran ini bukan hanya dimiliki oleh Nabi Ibrahim saja, tetapi dimiliki oleh
seluruh keluarga, baik anaknya sebagai orang yang menjadi qurban, ataupun
isterinya sebagai seorang ibu yang telah melahirkan anak yang akan diqurbankan.
Sekali lagi dalam menjalankan perintah ini sangat dituntut adanya kesabaran
yang luar biasa, dan hal ini sudah dibuktikan oleh keluarga Nabi Ibrahim,
sebagaimana yang dikisahkan Allah dalam Al-Quran :
“Maka tatkala sang putera itu
berumur dewasa dan mampu berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai
anakku, sesungguhnya aku bermimpi aku menyembelihmu, maka fikirkanlah bagaimana
pendapatmu!”. Ia menjawab: “Hai bapaku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.
Tatkala keduanya telah
berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami berseru
dan memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah meyakini mimpi kamu
itu. Sesungguhnya demikianlah, Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar merupakan ujian yang nyata. Dan Kami
tebus putera itu dengan seekor (kambing) sembelihan yang besar. Dan Kami
abadikan untuk Ibrahim itu (pujian baik) di kalangan orang-orang yang datang
kemudian”. (Ash-Shaaffaat: 102-108).
3.
Ketaatan
Perintah yang dijalankan Nabi
Ibrahim untuk menyembelih anaknya yang dicintai membuktikan ketaatan yang luar
biasa kepada Allah. Nabi Ibrahim telah menjadikan Allah diatas segala-galanya,
termasuk anak dan isterinya. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 131 :
Ertinya : “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim
menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.
Dalam surat Al-Baqarah ayat
133 Allah berfirman : Ertinya : “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan
maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah
sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek
moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk
patuh kepada-Nya”.
Demikian pula halnya dengan
si isteri yaitu Hajar, wanita solehah yang mempunyai ketaatan yang luar biasa
kepada Allah , ketika mendengar perintah Allah dari suaminya beliau tidak
berusaha menentangnya, kerana ini adalah perintah Allah yang harus ditaati.
Begitupun dengan anaknya yang akan menjadi “qurban” tidak berusaha untuk mencegah
atau mempengaruhi ayahnya untuk tidak melaksanakan perintah tersebut, malah
sebaliknya, ia meyakinkan ayahnya, bahawa jka memang itu adalah perintah Allah
, maka harus dilaksanakan. Allah mengabadikan perkataan Nabi Ismail kepada
ayahnya dalam Al Quran sehubungan dengan peristiwa ini :
Ertinya :”Maka tatkala si
putera itu berumur dewasa dan bisa berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata:
“Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi aku menyembelihmu, maka pikirkanlah
bagaimana pendapatmu!”. Ia menjawab: “Hai bapaku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar.” (Ash-Shaffat: 102).
Itulah ketaatan yang
dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim yang merupakan contoh ketaatan yang
harus diteladani. Dan buah dari ketaatan ini adalah sebagaimana yang
difirmankan Allah : Ertinya : “kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”
(Ash-Shaffat: 109).
4.
Pengorbanan
Kisah penyembelihan seorang
anak oleh ayahnya disebabkan ketaatannya kepada Allah merupakan kisah
pengorbanan yang luar biasa. Pengorbanan yang bukan hanya dibuktikan oleh Nabi
Ibrahim saja sebagai seorang ayah, tapi juga dibuktikan oleh Ismail dan Hajar
sebagai seorang anak dan isteri. Ibrahim sebagai seorang ayah tentu tidak akan
mau membunuh seseorang yang menjadi darah dagingnya sendiri, apalagi yang akan
diqurbankan adalah orang yang selama ini dinanti-nantikan selama puluhan tahun.
Begitupun dengan Hajar, si
ibu, tentu tidak akan pernah berharap atau membayangkan bahawa anak
satu-satunya yang dinanti-nantikan akan diqurbankan oleh ayahnya sendiri.
Ismailpun sebagai seorang anak yang masih muda tidak akan pernah membayangkan
bahawa suatu saat nyawanya akan terlepas dari jasad oleh ayahnya sendiri. Tapi
demi ketaatan kepada Allah yang mereka sendiri yakin bahwa Allah tidak akan
menzalimi hambanya maka mereka pun ikhlas menjalankan perintah Allah.
5.
Keimanan
Ketaatan adalah buah dari keimanan,
keimanan hadir dari keyakinan, dan keyakinan tumbuh kerana adanya hujah dan
pembuktian. Keimanan keluarga Nabi Ibrahim merupakan keimanan yang didasarkan
pada keyakinan yang dalam karena mereka telah melihat bukti nyata tentang
kekuasaan Tuhan yang diyakini dan diimaninya. Dunia dan seisinya adalah bukti
kebesaran Tuhan, bahkan alam semesta yang memiliki berjuta-juta galaksi
merupakan bukti yang nyata akan kekuasaan Tuhan.
Itu semua adalah bukti yang
membuahkan keimanan pada diri Nabi Ibrahim. Allah telah mengisahkan dalam surat
Al-An’am ayat 75-79 tentang pencarian Tuhan yang dilakukan Nabi Ibrahim, yang
menjadikan alam semesta sebagai pembuktian adanya Tuhan.
Ertinya : “Dan demikianlah
Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan di langit dan bumi dan
agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat
sebuah bintang dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu
tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”
Kemudian tatkala dia melihat
bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam,
dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku,
pastilah aku termasuk orang yang sesat.”
Kemudian tatkala ia melihat
matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka
tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku
berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan
diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada
agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan
Tuhan.”
Disisi lain, Allah telah
memberikan bukti secara langsung kepada Nabi Ibrahim yang semakin menambah
keyakinan dan keimanannya, sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Quran surat
Al-Baqarah ayat 260 :
Ertinya : Dan ketika Ibrahim
berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan
orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab:
“Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap.
Allah berfirman: “ambillah
empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. “Lalu letakkan diatas
tiap-tiap satu bukit satu bahagian dari bahagian-bahagian itu, kemudian
panggillah mereka, nescaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan
ketahuilah bahawa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Buah dari apa yang dialami
oleh Nabi Ibrahim adalah keimanan dan keyakinan yang sangat dalam kepada Allah
, sehingga dari keimanan dan keyakinan yang dalam kepada Allah , melahirkan
hal-hal sebagaimana yang telah disebutkan di atas, iaitu ketulusan dan
keikhlasan, kesabaran, juga ketaatan. Sehingga apapun bentuk yang diperintahkan
Allah, nescaya akan dilaksanakan dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan
ketundukan. Dan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim merupakan pembuktian terunggul
keimanannya kepada Allah.
No comments